RESUME MATERI PKKMB DAY 2
Perguruan tinggi di era
digital dan revolusi industri
Pemateri : Ainun Najib
Perubahan besar di dunia
pendidikan akibat perkembangan teknologi digital, khususnya AI (Artificial
Intelligence). Revolusi industri berbasis AI saat ini memiliki dampak besar
layaknya penemuan listrik. AI sudah masuk ke berbagai aspek kehidupan, termasuk
pendidikan dan perguruan tinggi. Ia menyoroti bahwa AI mampu mengotomatisasi
banyak pekerjaan, namun ada dua hal yang tidak bisa digantikan: kreativitas
dan rasa kemanusiaan (empati/compassion).
empat kuadran pekerjaan di era AI:
- Kiri
bawah (otomatisasi penuh): pekerjaan tanpa kreativitas dan tanpa
kemanusiaan, seperti logistik dan pergudangan.
- Kiri
atas (butuh empati, kurang kreativitas): layanan kesehatan dan
pendidikan; proses bisa diotomatisasi, tapi tetap membutuhkan sentuhan
manusia.
- Kanan
bawah (butuh kreativitas, minim empati): desain, arsitektur, seni
visual; sebagian bisa dikerjakan AI, sebagian tetap bergantung pada
kreativitas manusia.
- Kanan
atas (butuh kreativitas dan empati): kepemimpinan, manajemen
organisasi, dan pengambilan keputusan strategis yang membutuhkan
kecerdikan sekaligus nilai kemanusiaan.
Bagi mahasiswa baru UNUSA, Pentingnya mengembangkan
keterampilan berpikir kritis, kreatif, empatik, serta kolaborasi dengan AI.
Hafalan tidak lagi relevan, melainkan kemampuan problem solving, eksperimen
cepat, dan kerja sama dengan teknologi.
Selain itu, peran NU dalam memimpin arah pemanfaatan
teknologi, agar AI tidak digunakan untuk hal-hal yang merugikan (misalnya
senjata dan pembantaian), tetapi untuk kemaslahatan dan rahmatan lil ‘alamin.
Gus Dur dijadikan teladan dalam mendahulukan keselamatan umat di atas
kepentingan jabatan.
Lima prinsip penggunaan AI bagi mahasiswa:
- Adab
sebelum ilmu : jangan sekadar copy-paste tugas dari AI, hargai proses
belajar.
- Amanah
: menjaga data pribadi dan informasi sensitif.
- Akurasi
: selalu memverifikasi hasil AI.
- Akuntabilitas
: manusia tetap penanggung jawab, bukan mesin.
- Akses
inklusif : teknologi harus bisa dinikmati semua kalangan, bukan hanya
segelintir elit.
Sebagai mahasiswa jangan hanya
menjadi penonton perubahan, tetapi ikut mengarahkan perkembangan teknologi ke
arah yang bermanfaat. Pilihannya hanya dua: menjadi pembuat AI atau pengguna AI
yang cerdas dan etis.
Generasi Muda Berintegritas
Anti Korupsi
Pemateri : Dr. Nurul
Ghufron, S.H., M.H.
Korupsi digambarkan sebagai
“kanker bangsa” karena merusak sendi-sendi kehidupan bernegara: merampas hak
rakyat, menghambat pembangunan, serta menghancurkan kepercayaan publik. Upaya
melawannya bukan hanya tugas aparat penegak hukum, melainkan tanggung jawab
kolektif seluruh masyarakat, khususnya generasi muda yang menjadi harapan
bangsa.
Pentingnya Peran Generasi Muda
Generasi muda menempati posisi
strategis karena akan menjadi pemimpin, profesional, dan warga negara yang
menentukan arah Indonesia di masa depan. Nilai integritas yang ditanamkan sejak
dini menjadi pondasi kepemimpinan yang bersih. Mereka memiliki energi,
kreativitas, serta penguasaan teknologi untuk membangun sistem transparansi,
mengawasi pejabat publik, dan menciptakan solusi digital antikorupsi. Pola
pikir kritis dan idealisme membuat generasi muda berani menentang budaya
korupsi yang sudah mengakar. Dengan demikian, mereka adalah agent of change
yang memiliki kepentingan langsung untuk mewarisi Indonesia yang lebih adil,
bersih, dan sejahtera.
Integritas sebagai Senjata
Utama
Integritas adalah benteng
generasi muda dalam menghadapi godaan korupsi. Nilai-nilai yang harus dijunjung
tinggi mencakup:
- Kejujuran:
Menolak segala bentuk kebohongan, bahkan dalam hal kecil.
- Konsistensi:
Menyatukan kata dan perbuatan, tidak tergoda situasi.
- Tanggung
jawab: Melaksanakan kewajiban tanpa mengharap keuntungan tidak sah.
- Keadilan:
Berlaku adil terhadap semua pihak tanpa diskriminasi.
- Keberanian:
Tegas menolak suap dan berani melaporkan penyimpangan.
- Kemandirian: Berjuang dengan usaha sendiri tanpa mengandalkan fasilitas yang tidak sah.
Strategi Generasi Muda dalam
Perang Antikorupsi
- Dimulai
dari diri sendiri: Jujur dalam ujian, tidak mencontek, tidak menerima
pungli, tidak menggunakan jalur belakang, serta hidup sederhana.
- Edukasi
dan penyadaran: Memahami dampak korupsi, berdiskusi dengan teman
sebaya, menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan antikorupsi,
serta bergabung dengan komunitas atau organisasi pemuda.
- Pemanfaatan
teknologi: Mengawasi pemerintah melalui media sosial, memanfaatkan
akses informasi publik, serta menciptakan aplikasi transparansi dan
pelaporan publik.
- Pengawasan
partisipatif: Mengawasi anggaran sekolah, kampus, dan lingkungan,
berpartisipasi dalam forum perencanaan pembangunan, serta menggunakan hak
pilih dengan bijak untuk memilih pemimpin bersih.
- Menjadi
teladan: Menunjukkan prestasi tanpa korupsi, berkarya untuk
masyarakat, serta mendukung jejaring pemuda yang berintegritas.
Tantangan yang Dihadapi
Generasi muda berhadapan dengan
budaya nepotisme dan “jalan pintas”, tekanan ekonomi, serta pengaruh lingkungan
yang permisif terhadap korupsi. Ketakutan untuk melapor juga menjadi kendala
besar, sehingga dibutuhkan dukungan regulasi, perlindungan hukum, dan penguatan
mental.
Kesimpulan
Generasi muda adalah garda
terdepan pemberantasan korupsi. Dengan menginternalisasi integritas,
meningkatkan kesadaran, memanfaatkan teknologi, serta berani bertindak, mereka
bisa menjadi motor perubahan menuju Indonesia yang bersih dan transparan. Sukses
tanpa korupsi adalah bukti bahwa masa depan bisa dibangun dengan kejujuran dan
kerja keras.
Indonesia bebas korupsi bukan
sekadar utopia, tetapi visi yang dapat dicapai jika generasi mudanya bertekad
kuat. Seperti pesan Ir. Soekarno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang
menghargai jasa pahlawannya.” Maka pahlawan masa kini adalah generasi muda
yang berintegritas dan berani melawan korupsi.
Mencetak Mahasiswa Unusa sebagai
generasi Aswaja An-Nahdliyah
Pemateri : KH Ma'ruf
Khozin
Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA)
memiliki posisi strategis sebagai penerus tradisi keilmuan dan keagamaan Aswaja
An-Nahdliyah. Identitas ini berakar dari afiliasi UNUSA dengan Nahdlatul Ulama
(NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menjadi benteng utama ajaran
Ahlusunnah wal Jama’ah. Peran mahasiswa UNUSA tidak hanya sebagai penuntut
ilmu, tetapi juga sebagai kader yang akan menjaga, mengembangkan, dan
mengimplementasikan nilai-nilai Aswaja dalam berbagai aspek kehidupan.
1. Landasan Ideologis: Aswaja An-Nahdliyah
Aswaja (Ahlusunnah wal Jama’ah) adalah paham keislaman yang
bersandar pada Al-Qur’an, Hadis, Ijma’ Ulama, dan Qiyas dengan teladan salafus
shalih. Sedangkan An-Nahdliyah menegaskan corak NU yang menekankan sikap tawassuth
(moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan ishlah (perbaikan sosial).
Mahasiswa UNUSA diposisikan untuk memahami keragaman mazhab, khususnya
Syafi’iyyah dalam fiqih, Asy’ariyyah-Maturidiyyah dalam akidah, dan Al-Ghazali
dalam tasawuf. Corak ini menumbuhkan sikap inklusif, menghindari ekstremisme,
serta menjadikan agama sebagai sumber solusi sosial.
2. Peran Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Aswaja
An-Nahdliyah
- Penjaga
Tradisi Keilmuan: Mahasiswa didorong mempelajari kitab kuning dengan
pendekatan kontekstual. Tradisi keilmuan klasik dipadukan dengan ilmu
modern agar relevan dengan tantangan zaman.
- Agen
Moderasi Beragama: Mahasiswa diarahkan menjadi duta toleransi, menolak
radikalisme, serta membangun dialog lintas agama dan budaya. Mereka
menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin yang menebar kasih sayang dan
kedamaian.
- Pejuang
Kemaslahatan Sosial: Mahasiswa dilatih peka terhadap isu
kemasyarakatan, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga lingkungan.
Prinsip amar ma’ruf nahi munkar diterapkan melalui kegiatan sosial dan
pemberdayaan masyarakat.
- Inovator
dalam Tradisi: Mahasiswa tidak hanya melestarikan nilai-nilai Aswaja,
tetapi juga menyesuaikannya dengan era digital. Mereka berperan mengatasi
masalah modern seperti hoaks, radikalisme online, serta mengembangkan
teknologi berbasis nilai Islam.
3. Implementasi di Kampus UNUSA
Kurikulum UNUSA mewajibkan mata kuliah Agama Islam,
Ke-NU-an, dan Aswaja An-Nahdliyah agar mahasiswa memiliki fondasi ideologis
yang kuat. Kegiatan kemahasiswaan meliputi majelis taklim, kajian kitab, serta
festival budaya NU yang menghidupkan tradisi shalawat, hadrah, dan dzikir.
Mahasiswa juga terlibat aktif di organisasi seperti PMII, IPNU/IPPNU, hingga
kegiatan resmi NU di tingkat daerah maupun nasional.
4. Tantangan yang Dihadapi
Mahasiswa UNUSA menghadapi arus globalisasi, perkembangan
pemikiran transnasional, dan ancaman radikalisme. Era disrupsi digital juga
menuntut mereka lebih aktif menyebarkan narasi moderat Aswaja di dunia maya.
Selain itu, mereka dituntut membuktikan bahwa Aswaja An-Nahdliyah relevan
sebagai solusi persoalan modern, bukan sekadar warisan masa lalu.
5. Kesimpulan
Mahasiswa UNUSA merupakan generasi harapan NU dan bangsa.
Mereka dituntut untuk:
- Menginternalisasi
nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan sehari-hari.
- Mengamalkan
prinsip moderasi, toleransi, dan maslahah dalam interaksi sosial.
- Mengembangkan
tradisi intelektual NU untuk menjawab tantangan kontemporer.
Dengan posisi ini, mahasiswa UNUSA menjadi jembatan antara
warisan ulama Nusantara dengan masa depan bangsa Indonesia yang adil, beradab,
dan berkepribadian Islam. Sejalan dengan pesan KH. Hasyim Asy’ari, tugas mereka
adalah “nguri-uri (melestarikan) yang shalih dan ngembangke (mengembangkan)
yang aswaja.”
- Facebook : https://www.facebook.com/unusaofficialfb
- Instagram : https://www.instagram.com/unusa_official/
- Youtube : https://www.youtube.com/@unusa_official
- Twitter ( X ) : https://x.com/unusa_official?lang=en
- Tiktok : https://www.tiktok.com/@unusa_official

Komentar
Posting Komentar