RESUME MATERI PKKMB DAY 2

 

    Perkenalkan nama saya Andika Pasha Nawaka Putra, saya berasal dari Nganjuk,  saya berumur 17 tahun, saya dari prodi D-IV K3 (KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA) dari Fakultas Kesehatan dan Saya adalah Mahasiswa baru di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya dan sedang melaksanakan PKKMB hari pertama  

Perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri

Pemateri : Ainun Najib

Perubahan besar di dunia pendidikan akibat perkembangan teknologi digital, khususnya AI (Artificial Intelligence). Revolusi industri berbasis AI saat ini memiliki dampak besar layaknya penemuan listrik. AI sudah masuk ke berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan perguruan tinggi. Ia menyoroti bahwa AI mampu mengotomatisasi banyak pekerjaan, namun ada dua hal yang tidak bisa digantikan: kreativitas dan rasa kemanusiaan (empati/compassion).

empat kuadran pekerjaan di era AI:

  1. Kiri bawah (otomatisasi penuh): pekerjaan tanpa kreativitas dan tanpa kemanusiaan, seperti logistik dan pergudangan.
  2. Kiri atas (butuh empati, kurang kreativitas): layanan kesehatan dan pendidikan; proses bisa diotomatisasi, tapi tetap membutuhkan sentuhan manusia.
  3. Kanan bawah (butuh kreativitas, minim empati): desain, arsitektur, seni visual; sebagian bisa dikerjakan AI, sebagian tetap bergantung pada kreativitas manusia.
  4. Kanan atas (butuh kreativitas dan empati): kepemimpinan, manajemen organisasi, dan pengambilan keputusan strategis yang membutuhkan kecerdikan sekaligus nilai kemanusiaan.

Bagi mahasiswa baru UNUSA, Pentingnya mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, empatik, serta kolaborasi dengan AI. Hafalan tidak lagi relevan, melainkan kemampuan problem solving, eksperimen cepat, dan kerja sama dengan teknologi.

Selain itu, peran NU dalam memimpin arah pemanfaatan teknologi, agar AI tidak digunakan untuk hal-hal yang merugikan (misalnya senjata dan pembantaian), tetapi untuk kemaslahatan dan rahmatan lil ‘alamin. Gus Dur dijadikan teladan dalam mendahulukan keselamatan umat di atas kepentingan jabatan.

Lima prinsip penggunaan AI bagi mahasiswa:

  1. Adab sebelum ilmu : jangan sekadar copy-paste tugas dari AI, hargai proses belajar.
  2. Amanah : menjaga data pribadi dan informasi sensitif.
  3. Akurasi : selalu memverifikasi hasil AI.
  4. Akuntabilitas : manusia tetap penanggung jawab, bukan mesin.
  5. Akses inklusif : teknologi harus bisa dinikmati semua kalangan, bukan hanya segelintir elit.

Sebagai mahasiswa jangan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi ikut mengarahkan perkembangan teknologi ke arah yang bermanfaat. Pilihannya hanya dua: menjadi pembuat AI atau pengguna AI yang cerdas dan etis.

 

Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi

Pemateri : Dr. Nurul Ghufron, S.H., M.H.

Korupsi digambarkan sebagai “kanker bangsa” karena merusak sendi-sendi kehidupan bernegara: merampas hak rakyat, menghambat pembangunan, serta menghancurkan kepercayaan publik. Upaya melawannya bukan hanya tugas aparat penegak hukum, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat, khususnya generasi muda yang menjadi harapan bangsa.

Pentingnya Peran Generasi Muda

Generasi muda menempati posisi strategis karena akan menjadi pemimpin, profesional, dan warga negara yang menentukan arah Indonesia di masa depan. Nilai integritas yang ditanamkan sejak dini menjadi pondasi kepemimpinan yang bersih. Mereka memiliki energi, kreativitas, serta penguasaan teknologi untuk membangun sistem transparansi, mengawasi pejabat publik, dan menciptakan solusi digital antikorupsi. Pola pikir kritis dan idealisme membuat generasi muda berani menentang budaya korupsi yang sudah mengakar. Dengan demikian, mereka adalah agent of change yang memiliki kepentingan langsung untuk mewarisi Indonesia yang lebih adil, bersih, dan sejahtera.

Integritas sebagai Senjata Utama

Integritas adalah benteng generasi muda dalam menghadapi godaan korupsi. Nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi mencakup:

  • Kejujuran: Menolak segala bentuk kebohongan, bahkan dalam hal kecil.
  • Konsistensi: Menyatukan kata dan perbuatan, tidak tergoda situasi.
  • Tanggung jawab: Melaksanakan kewajiban tanpa mengharap keuntungan tidak sah.
  • Keadilan: Berlaku adil terhadap semua pihak tanpa diskriminasi.
  • Keberanian: Tegas menolak suap dan berani melaporkan penyimpangan.
  • Kemandirian: Berjuang dengan usaha sendiri tanpa mengandalkan fasilitas yang tidak sah.

Strategi Generasi Muda dalam Perang Antikorupsi

  1. Dimulai dari diri sendiri: Jujur dalam ujian, tidak mencontek, tidak menerima pungli, tidak menggunakan jalur belakang, serta hidup sederhana.
  2. Edukasi dan penyadaran: Memahami dampak korupsi, berdiskusi dengan teman sebaya, menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan antikorupsi, serta bergabung dengan komunitas atau organisasi pemuda.
  3. Pemanfaatan teknologi: Mengawasi pemerintah melalui media sosial, memanfaatkan akses informasi publik, serta menciptakan aplikasi transparansi dan pelaporan publik.
  4. Pengawasan partisipatif: Mengawasi anggaran sekolah, kampus, dan lingkungan, berpartisipasi dalam forum perencanaan pembangunan, serta menggunakan hak pilih dengan bijak untuk memilih pemimpin bersih.
  5. Menjadi teladan: Menunjukkan prestasi tanpa korupsi, berkarya untuk masyarakat, serta mendukung jejaring pemuda yang berintegritas.

Tantangan yang Dihadapi

Generasi muda berhadapan dengan budaya nepotisme dan “jalan pintas”, tekanan ekonomi, serta pengaruh lingkungan yang permisif terhadap korupsi. Ketakutan untuk melapor juga menjadi kendala besar, sehingga dibutuhkan dukungan regulasi, perlindungan hukum, dan penguatan mental.

Kesimpulan

Generasi muda adalah garda terdepan pemberantasan korupsi. Dengan menginternalisasi integritas, meningkatkan kesadaran, memanfaatkan teknologi, serta berani bertindak, mereka bisa menjadi motor perubahan menuju Indonesia yang bersih dan transparan. Sukses tanpa korupsi adalah bukti bahwa masa depan bisa dibangun dengan kejujuran dan kerja keras.

Indonesia bebas korupsi bukan sekadar utopia, tetapi visi yang dapat dicapai jika generasi mudanya bertekad kuat. Seperti pesan Ir. Soekarno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Maka pahlawan masa kini adalah generasi muda yang berintegritas dan berani melawan korupsi.

Mencetak Mahasiswa Unusa sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah

Pemateri : KH Ma'ruf Khozin

Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) memiliki posisi strategis sebagai penerus tradisi keilmuan dan keagamaan Aswaja An-Nahdliyah. Identitas ini berakar dari afiliasi UNUSA dengan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menjadi benteng utama ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah. Peran mahasiswa UNUSA tidak hanya sebagai penuntut ilmu, tetapi juga sebagai kader yang akan menjaga, mengembangkan, dan mengimplementasikan nilai-nilai Aswaja dalam berbagai aspek kehidupan.

1. Landasan Ideologis: Aswaja An-Nahdliyah

Aswaja (Ahlusunnah wal Jama’ah) adalah paham keislaman yang bersandar pada Al-Qur’an, Hadis, Ijma’ Ulama, dan Qiyas dengan teladan salafus shalih. Sedangkan An-Nahdliyah menegaskan corak NU yang menekankan sikap tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan ishlah (perbaikan sosial).
Mahasiswa UNUSA diposisikan untuk memahami keragaman mazhab, khususnya Syafi’iyyah dalam fiqih, Asy’ariyyah-Maturidiyyah dalam akidah, dan Al-Ghazali dalam tasawuf. Corak ini menumbuhkan sikap inklusif, menghindari ekstremisme, serta menjadikan agama sebagai sumber solusi sosial.

2. Peran Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah

  • Penjaga Tradisi Keilmuan: Mahasiswa didorong mempelajari kitab kuning dengan pendekatan kontekstual. Tradisi keilmuan klasik dipadukan dengan ilmu modern agar relevan dengan tantangan zaman.
  • Agen Moderasi Beragama: Mahasiswa diarahkan menjadi duta toleransi, menolak radikalisme, serta membangun dialog lintas agama dan budaya. Mereka menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin yang menebar kasih sayang dan kedamaian.
  • Pejuang Kemaslahatan Sosial: Mahasiswa dilatih peka terhadap isu kemasyarakatan, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga lingkungan. Prinsip amar ma’ruf nahi munkar diterapkan melalui kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
  • Inovator dalam Tradisi: Mahasiswa tidak hanya melestarikan nilai-nilai Aswaja, tetapi juga menyesuaikannya dengan era digital. Mereka berperan mengatasi masalah modern seperti hoaks, radikalisme online, serta mengembangkan teknologi berbasis nilai Islam.

3. Implementasi di Kampus UNUSA

Kurikulum UNUSA mewajibkan mata kuliah Agama Islam, Ke-NU-an, dan Aswaja An-Nahdliyah agar mahasiswa memiliki fondasi ideologis yang kuat. Kegiatan kemahasiswaan meliputi majelis taklim, kajian kitab, serta festival budaya NU yang menghidupkan tradisi shalawat, hadrah, dan dzikir. Mahasiswa juga terlibat aktif di organisasi seperti PMII, IPNU/IPPNU, hingga kegiatan resmi NU di tingkat daerah maupun nasional.

4. Tantangan yang Dihadapi

Mahasiswa UNUSA menghadapi arus globalisasi, perkembangan pemikiran transnasional, dan ancaman radikalisme. Era disrupsi digital juga menuntut mereka lebih aktif menyebarkan narasi moderat Aswaja di dunia maya. Selain itu, mereka dituntut membuktikan bahwa Aswaja An-Nahdliyah relevan sebagai solusi persoalan modern, bukan sekadar warisan masa lalu.

5. Kesimpulan

Mahasiswa UNUSA merupakan generasi harapan NU dan bangsa. Mereka dituntut untuk:

  • Menginternalisasi nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan sehari-hari.
  • Mengamalkan prinsip moderasi, toleransi, dan maslahah dalam interaksi sosial.
  • Mengembangkan tradisi intelektual NU untuk menjawab tantangan kontemporer.

Dengan posisi ini, mahasiswa UNUSA menjadi jembatan antara warisan ulama Nusantara dengan masa depan bangsa Indonesia yang adil, beradab, dan berkepribadian Islam. Sejalan dengan pesan KH. Hasyim Asy’ari, tugas mereka adalah “nguri-uri (melestarikan) yang shalih dan ngembangke (mengembangkan) yang aswaja.”


- Facebook       : https://www.facebook.com/unusaofficialfb

- Instagram       : https://www.instagram.com/unusa_official/ 

- Youtube          : https://www.youtube.com/@unusa_official 

- Twitter ( X )    : https://x.com/unusa_official?lang=en 

- Tiktok             : https://www.tiktok.com/@unusa_official

unusa.ac.id

fkes.unusa.ac.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME MATERI PKKMB DAY 1

Seminar Internasional, Unusa Kolaborasi dengan Universiti Malaya Kaji Hukum Islam Era Modern

RESUME MATERI 1 PKKMB FAKULTAS